Wejangan dari Abah
Empat Pesan Dari Zawawi
Di akhir masa kelas 3 SMA, sebelum saya melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, saya sempat duduk berdua dengan Abah.
Di momen itu, Abah menyampaikan sebuah wejangan yang beliau dapat dari orang tuanya (kakek saya), dan bahkan dari generasi sebelumnya lagi (buyut). Sebuah nasihat yang sederhana, tapi terasa berat maknanya.
Saat itu, saya hanya bisa berpikir, “Wah… ini wejangan turun-temurun dari keluarga.”
Wejangan ini terdiri dari 4 pesan:
- Jangan tinggalkan sholat
- Jangan lupa baca Al-Quran
- Jangan dekati riba
- Jika istri marah, diamlah
Dulu, saat masih duduk di bangku SMA, saya menganggap semua ini sederhana. “Ah, gampang.”
Namun setelah masuk ke dunia kerja dan menjalani kehidupan yang lebih nyata, saya mulai sadar, tidak ada yang benar-benar mudah dari keempat hal ini.
Jangan Tinggalkan Sholat
Ini mungkin terdengar sangat dasar. Bahkan mungkin kita sering berpikir, “Ya memang kewajiban.”
Tapi justru karena terlalu dasar, kita sering lengah.
Sholat bukan hanya sekadar kewajiban, tapi juga fondasi dan “jangkar” dalam hidup. Di saat hidup terasa kacau, pekerjaan menumpuk, pikiran penuh, hati tidak tenang, sholat adalah tempat kembali.
“Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu” (QS. Al-Baqarah 153 & 45)
Kadang, bukan kita yang tidak punya waktu untuk sholat. Tapi justru kita yang butuh sholat agar hidup tidak berantakan.
Dan ada kalimat dari Abah yang cukup nyentil:
“Allah itu gak butuh hambanya, tapi hambanya lah yang butuh Allah, jadi jangan sombong dan jangan malu untuk sholat dan bersujud.”
Jangan Lupa Baca Al-Qur’an
Jika sholat adalah koneksi, maka Al-Qur’an adalah arah.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat senggang, tapi untuk dijadikan kompas dalam menjalani hidup. Dunia ini bisa sangat “ramai”, penuh distraksi, tuntutan, dan godaan. Tanpa pegangan, sangat mudah bagi kita untuk terseret arus.
Tidak harus banyak. Sedikit tapi konsisten jauh lebih bermakna.
Karena yang terpenting bukan sekadar selesai membaca, tapi bagaimana isinya bisa “hidup” dalam diri kita.
Jangan Dekati Riba
Oke, untuk bagian ini, saya sadar setiap orang punya sudut pandang yang berbeda. Namun saya menyampaikan ini sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Riba bukan hanya soal hukum, tapi juga soal keberkahan. Ada hal-hal yang secara angka terlihat menguntungkan, tapi terasa sempit dalam kehidupan.
Di zaman sekarang, bentuk riba semakin halus, paylater, cicilan instan, dan berbagai kemudahan lainnya, termasuk "trading" atau "investasi" yang diragukan kehalalannya.
Karena itu, wejangan ini bukan sekadar larangan, tapi ajakan untuk lebih sadar:
Bahwa tidak semua yang mudah itu baik, dan tidak semua yang menguntungkan itu menenangkan.
Jika Istri Marah, Diamlah
Dari keempat pesan, ini yang paling membekas bagi saya.
Dulu saya sempat bertanya-tanya, “Kenapa Abah menyampaikan ini ke saya yang masih SMA?” Namun seiring bertambahnya usia, saya mulai memahami maknanya. Dan terkadang bikin saya tersenyum sendirian.
Ini dalam banget.
Ini bukan terkait lemah dan kuat atau dominan dan submisif. Sekali lagi ini bukan soal siapa yang kuat atau siapa yang lemah.
Ini soal mengelola ego dan menjaga hubungan.
Bukan karena kita sebagai suami harus lemah, tetapi ini sebagai laki-laki yang kelak akan menjadi kepala keluarga , kita memegang tanggung jawab besar. Bukan hanya memimpin, tapi juga menjaga.
Ketika emosi bertemu emosi, yang terjadi adalah ledakan. Namun ketika satu pihak memilih diam, konflik punya ruang untuk mereda.
Diam di sini bukan berarti kalah. Tapi bentuk kontrol diri, agar tidak mengucapkan sesuatu yang disesali, bahkan sesuatu yang berbahaya seperti talak, yang dalam Islam memiliki konsekuensi serius meskipun dalam konteks bercanda.
Karena pada akhirnya, menjaga hubungan jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan.
Related Posts
Ditulis oleh Filfimo
Tidakkah kita berpikir? Tidakkah kita merenung?